Salah satu acara pada Reuni 25 Tahun (Always 25) Smandel '86 di Mario's Place, Sabtu 17 Des lalu, adalah permainan Bingo. Ketika Reuni 20 Tahun pada 2006 silam di halaman Smandel, Taman Bukit Duri, game ini juga ada. Dan karena dibawakan dengan kocak dan fun tim Bingo (profesional?), kelihatannya banyak yang minta agar diadakan lagi tahun ini, sekaligus sebagai sarana bagi-bagi hadiah untuk peserta reuni.
Sebelum Bingo dimulai, Roy Matondang mengajak saya, Ruddy Haryoto dan beberapa teman berpose dengan gaya metallers (padahal Roy fanatik Bitels). Yah, mungkin ini bagian dari "mid-life crisis" (hohoho...), sehingga meski umur sudah tidak memungkinkan, tapi tanda Devil's Horn tetap terbentuk di tangan masing-masing. Yeahhh! (Daripada pada diminta headbangers, hayo!)
Metal ora metal sing penting ngumpul
Di meja bagian tengah, Pak Ugi yang masih terlihat tegap ditemani oleh Ketua Umum Ikatan Alumni Smandel, Abdul Aziz ('82), meski sayangnya pak Ketum tidak bisa lama-lama di TKP karena "saya masih ada 2 acara lagi habis ini," katanya.
Saat itu, ada juga seorang guru lain yang datang, dan diperkenalkan pembawa acara sebagai "Ibu Meggi". Tapi di kalangan peserta reuni, semua saling celingukan, "Guru apa sih dulu bu Meggi?" Nggak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Anak-anak IPA pada berpikir, mungkin guru IPS. Sementara anak-anak IPS berpikir sebaliknya, jangan-jangan beliau guru IPA. Dan 'misteri' tentang siapa bu Meggi masih tetap menjadi misteri sampai menjelang akhir acara.
Akhirnya acara Bingo dimulai juga. Karena kursi bekas Ketum IAS sudah kosong dan tak ada panitia yang menemani pak Ugi, akhirnya saya pindah duduk ke sana, lalu mulai chit-chat sebentar dengan Pak Ugi, sambil kami melihat-lihat form Bingo 4 lembar yang diberikan. Tiba-tiba Arieswari Putri datang, menunjuk kursi sebelah kiri saya yang juga masih kosong, meski ada 3 tas tangan perempuan entah milik siapa. "Kosong ya, Mal?" tanya Aries. Saya mengangguk.
Aries lalu merapikan tas-tas itu sehingga dia bisa duduk. "Duduk di sini ah, siapa tahu hoki deket elu," katanya. "Hah? Hoki? Gue aja nggak pernah hoki kalau main Bingo," jawab saya tertawa. Tapi saya senang juga Aries memilih duduk di samping saya, karena kami dulu sekelas di I ipa 1, persis 25 tahun silam. Setelah itu tidak pernah sekelas lagi. Begitu Aries duduk, slide presentation di layar depan menayangkan foto-foto Arieswari (mungkin) di kelas 2 dan 3. Kelihatannya nggak banyak yang berubah dari Aries. Badannya masih ramping, lekuk lesung pipinya masih seperti dulu.
Permainan bingo dimulai. Pemandu game mengocok bola-bola dalam tabung, dan mengumumkan nomor yang keluar dengan cara dinyanyikan. Cara nyanyinya profesional, diiringi organ tunggal dengan lagu-lagu jadul yang pernah populer, tapi kata-katanya diganti dengan pantun yang menunjuk pada angka tertentu. Kalau angka yang disebut pemandu bingo ada pada lembar kertas peserta, maka harus dicoret oleh peserta. Peserta yang pertama kali berhasil mendapatkan 5 angka horisontal yang tercoret adalah pemenangnya. "Oh, begitu mainnya?" celetuk Pak Ugi, setelah pemandu menyebutkan beberapa angka awal.
"Memangnya kenapa pak?" tanya saya.
"Dulu waktu saya baru dari Semarang ke Jakarta tahun 1971," Pak Ugi memulai ceritanya, "Tiap malam selama 3 bulan saya nongkrong di Pasar Malam Gambir, di depan stan permainan Bingo. Tapi saya sama sekali nggak ngerti, pada main apa sih orang-orang itu? Bayangkan lho, tiga bulan saya lihat terus! Baru hari ini saya ngerti cara main Bingo," lanjut pak Ugi.
"Wah, kalau dari dulu pak Ugi sudah ngerti Bingo," ide jail saya muncul. "Jangan-jangan bapak nggak tertarik jadi guru Smandel ya?"
Pak Ugi tertawa. Di depan, seorang pemenang sudah ada, dan mendapatkan hadiah dari panitia. Lalu pemenang lain, lalu lainnya lagi, dari meja di kanan, kiri, belakang kami. Dari meja tengah tempat pak Ugi, saya, Arieswari dan beberapa kawan lain duduk masih belum ada.
"Gue pernah malu main Bingo waktu di Perak," bisik Aries ketika permainan dilanjutkan. "Gue udah teriak Bingo, dan naik ke panggung, eh ternyata sudah lembar berikutnya, sementara gue masih nyoret di halaman pertama," kata Aries dengan muka memerah. "Malu abis!"
Singkat cerita, sampai 4 lembar jatah peserta dimainkan, tak satu pun dari kami (pak Ugi, saya, Aries) yang cukup beruntung. "Main ini benar-benar luck ya," simpul pak Ugi. "Kita nggak perlu mikir apa-apa."
Kesempatan duduk di samping pak Ugi saya gunakan untuk bertanya tentang bu Meggi. Jawaban pak Ugi? "O, kalian pasti nggak kenal. Karena waktu kalian di Smandel dulu dia baru magang sebagai guru mengetik." Nah!
Usai Bingo yang berlanjut dengan penampilan Omloy dkk dengan Settles, acara di petang itu pun berakhir dengan foto bersama di atas stage Mario's Place.
Always 25 Smandel '86
Sayang karena sudah banyak yang pulang, foto bersama itu menurut hitungan Kaffah, hanya diikuti sekitar 90-an alumni.
Begitu acara foto selesai, Vini Zainal sebagai ketua panitia mengucapkan terima kasih secara umum kepada peserta yang hadir, dan terima kasih khusus kepada Kaffah dengan gaya yang orisinal. "Terima kasih buat Pak Haji Kaffah atas sumbangan Chivas Regal-nya," ujar Vini diulang-ulang, sampai Kaffah 'kelabakan' sendiri, "Gokil nih Vini, nyebut Pak Haji Kaffahnya diulang-ulang lagi," katanya sambil nyengir.
Arieswari, Kaffah, ANB, Vini, Titi, Yuni Joetex
Kalau dengan Arieswari saya sudah nggak ketemu 1/4 abad, dengan Kaffah lebih lama lagi karena dia adalah teman SD!
Kelar dengan acara resmi, di pintu masuk yang dihias dengan backdrop Always 25 berlangsung apa yang disebut Swasti Sawitri sebagai "reuni colongan" dari alumni SMP 73 Tebet (yang lanjut ke Smandel)."Gue belum punya foto berdua sama elu Mal," ujar Wasti. "Masak udah bareng di SMP dan SMA, gue masih nggak punya foto bareng pengarang b*k*n," katanya agak mendramatisir. (Untung nggak sekampus. Kalau sekampus juga, mungkin dapat gelas cantik ya Was :))
Mungkin karena Wasti "agak-agak nge-gombal" begitulah (hehehe... peace ya Was) makanya pas kami mau difoto dengan BB dia, batere BB Wasti langsung low, dicoba berkali-kali nggak bisa juga. Sampai kemudian lewatlah lae Eddy Rittar dengan kameranya yang canggih, menyelamatkan suasana.
Dan kayaknya "reuni colongan" ini juga dilakukan oleh alumni-alumni dari SMP lain yang menjadi anggota Smandel '86, meski yang jelas-jelas memanfaatkan, seperti kelihatan di foto, "seolah-olah" hanya anak-anak eks-SMP 73 saja.
ki-ka: Rini, Ati, Lily, Tomi, Yosi, ANB, Wasti, Hernita ("reuni colongan" eks-SMP 73)
Seperti kata pepatah: Jika mau ke Brastagi, beli dulu pinang di Lapo. Jika mau reuni lagi, semoga nanti menang di Bingo.
ANB





