Saturday, March 19, 2011

Pelacur Teladan

Sebelum pukul 3 sore aku mulai meninggalkan rumah menuju TK Asri di kawasan Halim untuk memenuhi undangan pengajian Smandel 87. Baru ada 4 orang ketika aku sampai, pak ustad Subhan dan 3 wanita yang semuanya berjilbab, bisa jadi merupakan dress code kaum hawa kali ini.

Pengajian belum dimulai, masih menunggu penumpang yang belum datang, kesempatan ini aku gunakan untuk berdiskusi dengan pak ustad yang akan membahas topik akhlak yang mulia. Masya Allah, pak ustad yang berpenampilan sederhana  ternyata sungguh memiliki akhlak yang luar biasa, bayangkan di rumahnya beliau memelihara 22 anak terlantar yang diberikan sandang, pangan, papan dan pendidikan dengan biaya Rp 50 juta per-bulan.

Setelah penumpang cukup banyak barulah pengajian dimulai, inti ceramah aku tuliskan dalam bahasa yang sederhana yaitu Yang Maha Pencipta menerima taubat dan maaf selama kita mengesakan DIA.

Dikisahkan seorang pembunuh yang telah menghilangkan nyawa 99 orang bertanya kepada seseorang, sebut saja namanya Fulan, apakah Allah masih memberikan maafNYA walau dia telah membunuh 99 orang?. Fulan menjawab, “Nggak mungkin, dosa ente udah kebanyakan!”. Fulan serta merta dibunuh, genap sudah 100 orang yang tewas.

Pembunuh melanjutkan perjalanannya dan bertemu seseorang serta bertanya apakah dia diterima taubatnya setelah membunuh 100 orang?. Jawaban yang diterima sungguh menyejukan bahwa, “Allah Maha Pemaaf”.

Setelah memperoleh petunjuk tempat belajar agama pembunuh melanjutkan perjalanan namun dia meninggal dalam perjalanan. Dua malaikat penjaga binggung, sang pembunuh dicatat sebagai ahli surga atau neraka, sudah bertaubat tetapi belum melakukan sedikitpun kebaikan. Malaikat diperintahkan untuk mengukur jarak tempat pembunuh tewas, lebih dekat dengan tempat bertaubat atau maksiat. Ternyata lebih dekat ke tempat bertaubat sehingga pembunuh dicatat sebagai ahli surga, Alhamdulillah.

Lain lagi cerita tentang pelacur yang bertaubat, baru saja memberi minum anjing yang kehausan dengan terompahnya si pelacur meninggal dan dicatat sebagai penghuni surga, walaupun memberi minum anjing adalah satu-satunya kebaikan setelah si pelacur bertaubat.

Sudah tentu kita semua ingin masuk surga termasuk Nung Harahap ’87 yang bertanya kepada ustad Subhan, “Pak ustad, kalau begitu apakah kita yang perempuan harus jadi pelacur dulu biar masuk surga?”.


Kalau aku yang jadi ustad aku akan bilang, "Ya nggak lah!, kalian harus rajin beribadah agar masuk surga, setelah masuk surga baru deh jadi pelacur"







  • Ustad waktu itu namanya Subhan :)

Saturday, December 18, 2010

Awas Copet

Entah angin apa yang membisikiku untuk menelpon Himawan, tanpa bilang “Hallo” atau “Assalamualaikum” serta-merta di speaker hapeku terdengar, “Men, elo mau ngajakin ke pengajian? Gue ikutan!”. Yakin sekali kalau aku akan mengajaknya kembali ke jalan yang benar, atau itu akal-akalan Himawan untuk mengalihkan pembicaraan, karena takut aku menagih hutangnya. Pis men!.

Di hari H, kami memang pergi dengan satu mobil, aku yang nebeng, setelah aku memarkir kendaraanku di Mega Mall Bekasi. Lebih enak karena ada teman berbincang, daripada janjian bertemu di sekolah. Kalau dia ke sekolah, kalau enggak?.

Mobil Himawan masuk ke halaman sekolah setelah pintu pagar aku buka dan bumper belakang mobilnya beradu kekuatan dengan cagak besi. Kami datang agak terlambat, shalat ashar berjamaah dahulu, aku yang jadi makmum, selanjutnya bergabung dalam acara pengajian Smandel 87.

Ceramah yang diberi judul Iman, Ilmu dan Amal adalah bagian pertama dari trilogi ceramah Aqidah yang akan dibawakan selama 3 kali oleh ustad Musnar di hari Sabtu minggu ketiga. Materi dan cara membawakannya bagus, bahkan dilengkapi dengan kasus untuk dibahas bersama. Kasusnya begini, seorang Raja mempekerjakan tukang kebun yang bertugas untuk merawat kebun, suatu sore anak Raja yang masih balita bermain sendiri di kebun karena sang baby sitter tertidur, tiba-tiba sang balita masuk sumur. Walaupun mengetahui si tukang kebun tidak bertindak dengan alasan tugasnya hanya merawat kebun.

Aku sempat berdiskusi dengan Himawan, kesimpulan kami yang salah Raja kenapa membuat sumur di kebun. Lagian hari gini Raja masih pakai sumur!.

Acara foto-fotoan juga ada, kali ini aku pasrah aja! Masa sih mau berlari-larian di mesjid.

Mendekati setengah enam ceramah dan diskusi selesai. Kami utarakan keinginan kami, aku yang jadi juru bicara,  untuk bisa mengikuti acara pengajian selanjutnya.Zubed, ketua pengajian Smandel 87, dengan senang hati mengijinkan bahkan menganjurkan untuk mengajak alumni yang lain.

Bada magrib kami berajak pulang setelah bermain petak-umpat dengan kunci mobil Himawan, penemunya Mei. Tadinya pemilik kunci mau dikerjain, berhubung yang kehilangan kunci senior batal deh niat ngerjainnya. Alhamdulillah!

Aku diturunkan Himawan tidak dengan paksa di lampu merah tikungan masuk ke arah tol Cikampek. Sebelum turun aku bilang ke Himawan, “Wan, tungguin sebentar gue mau nyiapin uang, takut kecopetan”, sambil mengeluarkan selembar rupiah berwarna biru dari dompet untuk kutempatkan di saku kanan celana jeans.

Diluar dugaan jawaban Himawan penuh kebapakan, mungkin gara-gara baru ikut pengajian, “Men, elo tenang aja, sekarang Jakarta aman, gue yakin elo nggak bakalan kecopetan, soalnya .... justru elo yang dikira copetnya!”.